Jam-Jam sampai Detik-Detik Menuju Khitbah

Hari itu adalah hari yang cerah dan damai. Semua persiapan sudah siap, cincin lamaran, bingkisan buah-buahan, dan kue-kuean. Keluarga juga sudah siap, orangtua sudah siap, ibu dan adikku pada malam sebelumnya sudah selesai pilih-pilih kostum yang akan dipakai pada hari spesial itu, keluarga uwa dari Depok juga sudah datang pada malam sebelumnya untuk ikut mengantarkan saya pada hari yang sangat spesial di hidup saya itu — Ya, hari itu adalah Jum’at tanggal 28 Desember 2012, Muhammad Yusuf akan melamar Azmi Fatharani Atsarak pada hari itu.

Oh ya, soal bingkisan yang akan dibawa, jika pada postingan sebelumnya saya menjelaskan akan membawa bingkisan pakaian wanita juga berupa kerudung, ternyata setelah saya mencoba memilih-milih kerudung berdasarkan warna, itu juga membuat saya bingung dan tidak tahu yang mana selera Azmi. Saya tahu warna kesukaan Azmi, tapi saat mau membeli, tidak ada warna yang saya rasa Azmi suka, ada yang terlalu terang, pucat, gelap, dll. Akhirnya saya ‘nego’ sama Azmi untuk tidak membawa bingkisan berupa pakaian, jadi hanya cincin, kue, dan buah-buahan.

Y: Azmi, kayanya kalau babawaan pakaian belum dulu ya karena bingung juga eum memilih pakaian yang sesuai selera kamu yang mana aku belum banyak mengetahuinya yah? Yah? Da bageur.. Razz Hehehehe.. Razz

— 7 jam kemudian..

A: Yusuf, km ngsms? Ilang.. Punten Me bru ngaktifin hp.. Bru nympe rmh d Tsk.. Knapa? Udah tdur nya?! Bisi ada apa2.. Punten ya..

— Dengan HP Azmi yang lama itu memang kadang-kadang SMS jadi ga nyampe

Y: Iya hhe, cuma mengabari berikut ini kok Me: Azmi, kayanya kalau babawaan pakaian belum dulu ya karena bingung juga eum memilih pakaian yang sesuai selera kamu yang mana aku belum banyak mengetahuinya yah? Yah? Da bageur.. Razz Hehehehe.. Razz Grin

A: Ilaang lg. Punten punten..

Y: Huehehe.. Dikirim ulang.. Sabar.. Sabar.. Grin

Y: Iya hhe, cuma mengabari berikut ini kok Me: Azmi, kayanya kalau babawaan pakaian belum dulu ya karena bingung juga eum memilih pakaian yang sesuai selera kamu yang mana aku belum banyak mengetahuinya yah? Yah? Da bageur.. Razz Hehehehe.. Razz Grin

A: Ooh Iya gpp.. Kirain knapa.. Hehe.. Iya tidak apa Yusuf nyantei aja.. Smile Update smpe hr kmrn, Pwk-Tsk macet 2 jam, bibi Me Tsk-Pwk macet 7 jam, jd total prjalanan 12jam. Macet d Rancaekek. Ga lewat da yah?! Bner kan skrg mah? Razz

Y: Hehe.. Soalnya kan aku kmaren kesannya udah ngejanjiin mo bawa itu jg, tp geuning bisi bukan selera km trs ntar g kepake hhe.. Haha.. Iya Azmi bner skrg mah g lewat.. Razz Oke deh, terimakasih Azmi. Sok selamat berkumpul dengan keluarga. Smile

Sekitar pukul 7 pagi hari itu kami mulai bergegas masuk mobil, dan saat ayah saya akan mengunci pintu, saya berteriak: “Cincinnya!!” Langsung ayah saya ikut kaget: “Waaah, kalau ketinggalan gimaaaanaaa ini.” Lalu ayah saya kembali ke dalam dan mengambil cincin lamaran tersebut.

Saat semua sudah siap dan rasanya tidak ada yang tertinggal lagi, kami pun memulai perjalanan dari Cianjur menuju kota Purwakarta tempat kediaman Azmi sekeluarga. Sesaat setelah mobil mulai bergerak maju, saya meng-sms Azmi menandakan bahwa kami sudah mulai berangkat.

Y: V1. V2. Rotate. Positive rate. Gear up. Grin

A: Roger that, captain. Razz

— .. Dan ternyata  masih ada yang tertinggal, HP ibu saya. Neutral

Singkat cerita kami sudah menembus lika-liku jalan Cipatat dan indahnya pemandangan di jalan tol Cipularang. Sekitar pukul 9 kami sampai ke kota Purwakarta dan kami langsung menuju rumah uwa saya yang memang berada di Purwakarta. Acara lamarannya sendiri memang rencananya sehabis Jum’atan, kami memang berencana akan beristirahat dulu di rumah uwaku itu dan sekalian berkoordinasi juga dengan juru bicara dari kami yang didatangkan oleh uwaku untuk acara lamaran itu. Juru bicara tersebut adalah kakak ipar dari istri uwaku. (Jauh ya pertalian saudaranya? Haha).

Saat koordinasi dengan juru bicara tersebut, beliau menanyakan siapa wanita yang akan dilamar dan bagaimana silsilah keluarganya. Saya pun menjawab dan menjelaskan. Sampai saat saya menyebutkan nama kakeknya Azmi, ternyata juru bicara tersebut sudah mengenal kakek Azmi tersebut, karena menurutnya kakeknya Azmi tersebut adalah tokoh per-beras-an di Purwakarta dan juru bicara tersebut sangat mengenal kakek Azmi tersebut karena pernah menjadi lurah untuk daerah kakek Azmi tersebut. Alhamdulillah.. Dimudahkan.. Grin

Akhirnya waktu Jum’atan pun tiba dan mungkin itu adalah Jum’atan paling berkecamuk yang pernah saya rasakan haha. Apa yang akan terjadi pada beberapa jam berikutnya? Bagaimana kalau Azmi tidak menerima lamaran saya? Saya terus menerus mengingatkan Azmi untuk memikirkan matang-matang, bagaimana kalau di shalat istikharah terakhirnya Azmi memutuskan untuk menjawab tidak. Waaaaaaaa.. Wa laa ya udhuu hifzhuhumaa wahuwal ‘aliyyul adziim..

Sehabis Jum’atan, this is the time, kami mulai bersiap untuk berangkat menuju rumah Azmi yang berjarak hanya beberapa KM dari rumah uwaku tersebut. Kali ini rombongan bertambah menjadi dua mobil karena ditambah uwaku di Purwakarta tersebut dan kakak iparnya yang akan menjadi juru bicara di prosesi lamaran nanti. Ikut juga anak, menantu, dan cucu uwaku yang akan ikut menyaksikan juga momen bersejarah tersebut. Sesaat setelah mobil bergerak maju saya kembali meng-sms Azmi:

Y: Tariiiik mang.. *ala pilot primajasa Razz BismillahGrin

A: Eh.. Nyantei aja.. Hehe..

Y: Eh udah V1 ini g bisa batal take off hhe..

Rasa-rasanya di perjalanan menuju rumah Azmi ini saya tidak ingin cepat-cepat sampai, tapi entah mengapa rasanya kok sudah sampai lagi ya.. Di jalan menuju rumah Azmi sudah ada keluarga Azmi yang standby untuk menunggu iring-iringan mobil untuk menunjukkan arah ke rumah Azmi. Walau beliau bingung juga awalnya karena mobil yang di depan merupakan mobil uwaku dan berplat nomor T yang merupakan plat nomor Purwakarta. Dan isinya adalah uwaku beserta keluarganya dan juru bicara tersebut yang merupakan orang Purwakarta dan dikenal oleh keluarga Azmi. Setelah keluarga Azmi tersebut mengobrol terlebih dahulu dengan yang keluarga saya yang berada di dalam mobil uwaku tersebut (mungkin untuk memastikan bahwa memang benar itu iring-iringan yang ditunggu-tunggu), maka perjalanan dilanjutkan dengan dipandu oleh keluarga Azmi tersebut.

Di detik-detik menuju khitbah ini, perasaan aneh yang baru pernah dirasakan hanya pada saat itu mulai datang, perasaan bahagia, malu, canggung, tidak sabar, dan lain-lain datang secara berbarengan. Karena hanya dalam hitungan detik berikutnya, prosesi khitbah atau lamaran Muhammad Yusuf untuk Azmi Fatharani Atsarak akan dimulai.

iOS & Windows Phone Developer at Radyalabs. Love Aviation. #GGMU