Langkah Menuju Meng-Khitbah — Cincin Lamaran

Langkah Menuju Meng-Khitbah — Cincin Lamaran

Setelah memantapkan hati sepenuhnya dan mendapatkan persetujuan dan dukungan dari berbagai ‘pemangku kepentingan’ untuk melamar (bahasa Arab: meng-khitbah) sang wanita pujaan hati yang saya impi-impikan selama ini yaitu seorang mojang Purwakarta (Tasik juga) bernama Azmi Fatharani Atsarak, saya pun mengontak Azmi dan menyampaikan maksud hati saya.

Alhamdulillah, Azmi mengijinkan saya sekeluarga untuk mengunjungi kediamannya sekeluarga di Purwakarta. Kami pun mendapat tanggal yang luang untuk melakukan prosesi lamaran, yaitu hari Jum’at tanggal 28 Desember 2012. Saatnya mempersiapkan! Saya pun bertanya pada Azmi apa saja yang biasa dibawa seseorang ketika ingin melamar seorang wanita di keluarganya, dan Azmi pun menjawab rincian berikut (ini mungkin berguna bagi yang ingin melamar seorang wanita di keluarga Azmi juga hehe):

  • Cincin
  • Kue-kuean
  • Buah-buahan
  • Pakaian untuk wanita

Perlu dicamkan, bahwa dalam Islam tidak ada aturan yang mewajibkan seorang laki-laki membawa sesuatu untuk diberikan ke wanita yang dilamarnya dalam proses lamaran. Jika ada yang dibawa, maka niatnya itu hanyalah sebagai sedekah untuk wanita tersebut dan keluarganya. Maka dari itu, kita pun harus meniatkan apa-apa yang diserahkan ke pihak wanita dalam proses lamaran itu hanya sebagai sedekah saja untuk membahagiakan pihak wanita.

Setelah dapat rincian seperti itu dari Azmi, saya pun mulai berkoordinasi dengan orang tua untuk mendapatkan barang-barang tersebut. Azmi juga sudah memberitahu saya ukuran jarinya untuk cincin dan saya putuskan cincin lamaran akan saya beli sendiri di Bandung dan sisanya akan dibeli saat mendekati hari H lamaran di Cianjur. Sebenarnya saya disuruh oleh orangtua untuk membeli cincin juga nanti saja di Cianjur bareng dengan orang tua karena saya belum berpengalaman membeli cincin apalagi emas bisa-bisa kena tipu, tapi saya bersikeras ingin mencoba membeli sendiri dan akhirnya saya putuskan untuk tetap mencoba dulu beli sendiri di Bandung.

Suatu hari, pulang kerja saya menyempatkan diri ke daerah Sukajadi, Bandung untuk mencari cincin lamaran ke toko emas. Dan setelah beberapa toko emas saya masuki, saya tidak berhasil menemukan cincin yang sesuai dengan hati saya. Saya bingung, yang menurut saya gak terlalu bagus malah mahal, yang menurut saya bagus banget malah murah. Saya takut salah pilih dan akhirnya saya menelepon ayah saya:

A: Pah, kayanya beli cincinnya di Cianjur aja deng, bingung, hehe.

A: Tuh kan, oke sip.

A: Oke sip.

A – Ayah, A – Anak Razz

Dan akhirnya kesimpulannya saya belum membeli cincin lamaran dan akan membeli cincin lamarannya di Cianjur bareng dengan orang tua minggu depan saat saya mulai cuti akhir tahun dan pulang ke Cianjur untuk persiapan lamaran.

iOS & Windows Phone Developer at Radyalabs. Love Aviation. #GGMU