Sampai Bertemu Lagi, Comlabs USDI ITB

Agustus 2011, menjadi salah satu bulan bersejarah sepanjang hidup saya dan bulan yang besar pada lini masa perkariran saya. Pada bulan itu, saya pertama memasuki dunia karir profesional. Ya, saya pertama kali mulai berkarir dan saling menggantungkan diri dengan sebuah perusahaan. Dengan perusahaan itu kelak saya akan mengenal dalam tentang e-learning. Dengan perusahaan itu kelak saya akan banyak mengenal dunia persilatan bisnis konten e-learning. Dengan perusahaan itu kelak saya akan menjadi trainer untuk berbagai perusahaan nasional dan multinasional. Dengan perusahaan itu kelak saya bersama tim akan menjadi salah satu pengembang konten e-learning terbaik di Indonesia yang dipercaya oleh berbagai perusahaan nasional dan multinasional. Dengan perusahaan itu kelak saya akan mendapat pengalaman berharga rapat dengan para petinggi perusahaan nasional dan multinasional. Dengan perusahaan itu kelak rasa percaya diri saya akan ditempa dengan berbagai pengalaman bertemu banyak klien-klien besar. Dengan perusahaan itu kelak saya akan naik Garuda Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan perusahaan itu kelak saya akan bolak-balik rapat di lantai tertinggi yang pernah saya capai di suatu gedung, lantai 27. Dengan perusahaan itu kelak saya akan mendapat pengalaman berharga dimarah-marahi sekaligus berdebat keras dengan klien. Dengan perusahaan itu kelak saya akan menjadi saya yang sekarang. Comlabs USDI ITB, itulah nama perusahaan itu.

Di Pertamina Learning Center

Bersama Gilang Abdul Aziz di Pertamina Learning Center. Saat itu adalah pertama kali proyek ke Jakarta bersama Comlabs.

Sebenarnya sebelumnya saya pernah bekerja di perusahaan lain sebagai tenaga lepas, namun untuk saling menggantungkan diri, Comlabs lah yang pertama untuk saya. Sesuai namanya — Comlabs USDI ITB, Comlabs memang berada di bawah naungan Institut Teknologi Bandung (ITB) tepatnya di bawah Unit Sumber Daya Informasi (USDI). Awalnya, main business dari Comlabs adalah untuk menyediakan fasilitas layanan teknologi informasi untuk civitas akademika ITB. Namun, dengan portofolio tersebut, Comlabs pun menyediakan fasilitas layanan teknologi informasi untuk instansi di luar ITB juga.

Seminar Techno.Edu.Preneur

Tim E-Learning saat mengadakan acara Techno.Edu.Preneur. Salah satu momen terbaik kami. Dari kiri ke kanan: Ali Sastra, Gilang A. Ramadan, Bayu Adhitya Nugraha (kang Abay), Asep Sufyan Tsauri, Muhammad Yusuf (saya), Ami Ridho Utami, Maya Dewi Mustika

Saya diajak bergabung dengan Comlabs oleh Gilang Abdul Aziz, rekan saya yang waktu itu diajak juga oleh Gilang A. Ramadan. Gilang A. Ramadan ini sebelumnya sudah diajak bergabung oleh kang Asep Sufyan Tsauri. —Begitulah rantai makanannya. Comlabs memang sedang membangun sebuah divisi baru, divisi E-Learning. Dan saya bergabung di sana. Saya disambut oleh kang Bayu Adhitya Nugraha (kang Abay), manajer divisi E-learning saat itu. Kami pun solid menjadi tim pengembang konten e-learning. Kala itu BII dan Pertamina yang menjadi klien pertama kami. Namun, Gilang Abdul Aziz memutuskan untuk berhenti di akhir tahun 2011 dan kami pun mendapatkan pengganti yang tak kalah luar biasanya, Ami Ridho Utami. Lagi-lagi, kami pun solid menjadi salah satu tim pengembang konten e-learning terbaik di Indonesia. Selain yang disebutkan namanya sebelumnya, di divisi kami juga ada Ali Do’aku (Nama aslinya sih Ali Sastra Ahmad Jumatan eh Jumena, tapi dia terkenal dengan lagu top hits di berbagai radio yaitu lagu Do’aku), Mbak Kamil (Khuria Amila), dan Teh DM (Maya Dewi Mustika).

Di Ciater

Bersama kang Asep, pak Arief (CTO Comlabs), dan pak Djadja (Kepala PMO dan HRD Comlabs) mencari tumpangan sepulang dari raker di Ciater. Hehe.

Awal tahun 2013, terjadi perubahan struktur, Kang Abay memutuskan akan fokus di bidang yang sedang digarapnya yakni musik positif dan Motivasinger. Motivasinger semakin membesar dan butuh perhatian khusus, sehingga beliau memutuskan akan fokus di sana. Memang, sekarang di radio saya sangat sering mendengar istilah ‘musik positif’, dan sangat-sangat banyak pemusik yang mengusung istilah tersebut sekarang. Sampai-sampai saya sempat memastikan ke salah satu teman yang tidak mau disebutkan namanya, bahwa apakah kang Abay yang pertama memperkenalkan musik positif. Dan teman saya itu menjawab iya, definetly. Beliau memang jago membuat sesuatu booming, saya percaya sepenuhnya kalau urusan marketing ke kang Abay. Kang Abay juga mungkin yang membuat tim E-Learning Comlabs mendapatkan proyek-proyek yang luar biasa di masa awal berdirinya. Posisi kang Abay pun digantikan oleh kang Asep.

Makan di Pekanbaru

Makan di Pekanbaru bersama kang Asep, pak Arief, dan kang Abay. Jauh-jauh ke Pekanbaru, nama rumah makannya: Riau Kuring.

Awal tahun 2013 itu juga sebenarnya terjadi pergoncangan pada hati saya. Sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang elektronik dan memegang 32% pangsa pasar dari produk smartphone di dunia —spesifik banget ya? Huehe. Razz menawarkan saya untuk bergabung dengan divisi R&D mereka di Indonesia. Namun, kata hati saya mengatakan bahwa saya masih harus di Comlabs, masih terlalu dini untuk meninggalkan Comlabs, seperti lagu kang Abay —Biar ku mengikuti kata hati … Lalala … Perubahan struktur di Comlabs juga yang membuat saya tertantang untuk tetap di Comlabs.

Foto sama pak Arief di Bandara Sultan Syarif Kasim II

Foto bareng pak Arief di Bandara Sultan Syarif Kasim II

Dan ternyata benar, 2013 jauh-jauh lebih seru. 2013 kami kedatangan banyak hal baru. Proyek baru, klien baru, tantangan baru, pengalaman baru. Luar biasa pokoknya! Wah banget! Haha. Sempat sampai kerja lembur sabtu minggu di Jakarta yang sampai membuat Gilang A. Ramadan (mulai sekarang sebut saja nama panggilannya ya, —Kacang. Cape ngetik nama lengkapnya) berwajah masam. Razz

Di Newmont Nusa Tenggara

Kang Dwi, pak Djadja, saya, dan pak Arief di PT Newmont Nusa Tenggara

Dan di 2013 kami juga kedatangan anggota tim yang baru. Sebut saja namanya kang Dian Sukmawan —memang nama sebenarnya, yang saat awal-awal kedatangannya rekan saya Kacang  masih suka salah menyebut nama belakang kang Dian ini. Misalnya jadi Dian Sumarwan, untung tidak pernah salah sebut jadi Dian Rupawan, padahal sudah jelas-jelas namanya Dian Sumarni, eh Sukmawan. Nampaknya tempat kerja sebelumnya dari kang Dian ini yaitu salah satu perusahaan TV nasional swasta yang ada di channel 7 dan 8 di TV di rumah saya telah berhasil merubah kepribadian kang Dian ini untuk selama-lamanya. Awalnya kami ingin menjauhi kang Dian ini supaya dia tidak punya teman, tapi kepribadian kang Dian membuat siapapun yang ingin menjauhi kang Dian pasti akan dijauhi oleh teman-teman di divisi kami. Kang Dian ini disimpan berhadapan dengan meja kerja Ami tapi mereka lebih baik tidak saling menyapa karena kalau saling menyapa pasti berakhir pada keributan. Ada juga Rany dan Ipeh —Rany ini selalu memergoki jika Kacang sedang ngupil.

IMG_4205

Pak Arief, saya, dan pak Djadja di pelabuhan Poto Tano pulau Sumbawa. Saat itu kapal perusahaan milik Newmont sedang service jadi kami naik kapal laut umum.

Pesan untuk Gilang/Kacang: Cang, dari sekian banyak foto di blog ini, foto ente baru satu di atas hahaha. Itu pun kecil. Sabar yah sabar, ntar di bawah ditambahin lagi.

Rany dan Ipeh sampai sekarang masih berada di posisi paling bawah pada rantai makanan kami, sehingga Rany selalu disuruh beli kue balok dan Ipeh selalu disuruh beli Domino Pizza. Kasihan mereka masih harus menjadi rantai makanan terbawah sampai anak-anak PLA berikutnya datang. Ipeh suka kelelahan kalau makan, tapi Rany paling semangat kalau jam makan siang. Oh ya, ada kang Dwi juga yang asalnya dari divisi sebelah, sekarang sering gabung divisi kami mengerjakan proyek. Kang Dwi ini jago banget networkingnya. Komputer yang kabel LANnya belum dicolokin aja bisa jadi konek Internet kalau ditroubleshoot ama kang Dwi. Kang Dwi ini banyak terpengaruh oleh kang Dian. Asalnya kami mau mengingatkan kang Dwi, eh besoknya kang Dwi sudah mengidap spesies yang sama dengan kang Dian. Kami pun hanya bisa iba saja. Minggu depannya hal yang lebih mengejutkan terjadi: Kang Dian, Kang Dwi, dan Kacang membuat grup band The Admins. Dan Rany sebagai rantai makanan terbawah sering sekali disuruh merekam saat mereka show di kantor sehabis jam kerja. —Oh, God, I will be insanely miss you all.

Saat menghadiri even Internasional

Saya dan pak Arief saat menghadiri sebuah even internasional haha

Pesan untuk Gilang/Kacang: Kalem cang kalem hehe di bawah ya cang ntar ada foto kamu.

Faktanya, di Comlabs kliennya besar-besar. Fakta itu juga yang menjadi pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga buat saya. Harganya jauh-jauh di atas nilai proyeknya. — Hehe. Perusahaan nasional dan multinasional berhasil kami garap. Misalnya: Bank Internasional Indonesia, PT Pertamina Persero, PT Newmont Nusa Tenggara, Bank Pembangunan Daerah Riau Kepri, PT Indonesia Port Company (Pelindo II), dan lain-lain. Bahkan, Comlabs sampai mengklaim sekitar 90% Bank Pembangunan Daerah di Indonesia pasti sudah mengikuti training di Comlabs.

Di Mine Pit PT Newmont Nusa Tenggara

Di Mine Pit PT Newmont Nusa Tenggara, salah satu tempat terlarang.

Comlabs selalu menantang saya untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan saya, bahkan di luar skill IT saya. Seperti bertemu sendirian dengan para pejabat dan petinggi perusahaan yang saya belum pernah lakukan seumur hidup. Dan sekarang hal-hal seperti itu rasanya sepele buat saya hahahahahahaha (<- tertawa sombong menyebalkan). Hal-hal itulah yang sangat-sangat berharga dan menjadi pembentuk diri saya saat ini. Pasti tak akan terlupakan sepanjang masa. —Ah, tak ternilai harganya.

Terimakasih Comlabs, terimakasih rekan-rekan semuanya atas hal-hal yang tak ternilai selama ini. Awal tahun 2014 ini saya memutuskan untuk mencari pengalaman baru. Pengalaman di luar sana setelah mendapat bekal yang sangat hebat di Comlabs. Dan lagi-lagi. Terimakasih Comlabs. :’)

iOS & Windows Phone Developer at Radyalabs. Love Aviation. #GGMU