Setelah Lamaran

Jika saya diminta untuk mendeskripsikan bagaimana perasaan saya ketika/setelah dilamar, jujur saya tidak bisa menjawab. Ketika ada yang berkata, “Pasti seneng dong..”, Ya, saya memang bahagia, tapi tidak sesederhana itu.. Menurut saya kata tersebut tidak cukup merepresentasikan. Ada rasa haru, takut, khawatir, cemas, dan berbagai perasaan lain yang terselip di sana. Menerima lamaran seorang laki-laki bukanlah hal kecil, terlebih laki-laki yang sebelumnya saya kenal sebagai teman, teman yang di awal perkenalan tidak pernah sedikitpun terbersit bahwa dia yang akan menjadi calon suami saya nanti. Mengatakan “ya” ketika dipinang merupakan langkah besar yang menyatakan bahwa seorang wanita bersedia melangkah menuju proses selanjutnya yaitu pernikahan, suatu ikatan dimana wanita harus siap untuk dipimpin oleh laki-laki tersebut seumur hidupnya. Seumur hidup. Dalam jangka seumur hidup tersebut sudah tentu akan banyak hal yang terjadi dan harus siap dihadapi bersama. Pahit-manis, jatuh-bangun, baik-buruk, sedih-bahagia. Betul sekali, disini saya hanya ingin saling mengingatkan kepada siapapun yang akan menjalani proses ini, jangan hanya hal-hal bahagianya saja yang dibayangkan, bayangkan pula kesiapan diri pribadi ketika harus dipimpin laki-laki yang dipilih, saling mendidik dan menasehati dalam kebaikan. Dilihat dari keseharian, latar belakang, visi dan misi, siapkah? Dirimu? Dirinya? Bersama? Grin

Seminggu setelah hari itu, kabar mengenai pertunangan saya sudah sampai ke beberapa teman saya. Oh, my.. Berbeda dengan Yusuf, entah kenapa saya belum mau teman-teman saya tau meskipun ini adalah kabar bahagia.. Saya belum mau saja menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul. Ketika ada teman saya yang menanyakan kabar itu melalui sms pun saya lebih memilih untuk tidak menjawab. Melihat ada cincin yang melingkar di jari saya saja, saya masih kagok. Jadi aneh.. Grin

Dan sampai sekarang di hari-hari setelah lamaran menuju ke pernikahan ini, terkadang saya masih bertanya-tanya, “Ya Allah.. Ko bisaaaaa ya?! Ko bisa orang ituuuuu?! Ko bisa Muhammad Yusuuuuf?!” Hahaa.. Saya masih sering merasa aneh aja.. Tapi saya yakin, rencana Allah akan selalu indah, dan sekarang pun memang seperti itu yang saya rasakan. Smile

Housewife. Educator and Human Capital at Edulab Learning Consultant.